Awalnya, aku ga pernah bayangin bakal beli sesuatu ini. Sampai akhirnya, bulan April lalu suamiku secara intens ngirim banyak link website barang bekas hampir tiap hari.
Sepulang kerja, dia sibuk nelponin kontak di link-link itu. Sesekali minta pertimbanganku akan pilihannya. Pilihan apapun, aku sih aman. Concern-ku cuma budget. Aku wanti-wanti jangan sampai lewat nominal tertentu karena kami tetep butuh dana darurat.
Concern lainnya.. apa kami memang butuh ini? Atau ini hanya keinginan sesaat?
Setelah merenung panjang, akupun akhirnya yakin kalau ini memang kami butuhkan dan perlu diprioritaskan. Mobilitas yang cukup tinggi dan punya bayi jadi pertimbangan paling utama.
Alhamdulillah, akhirnya dapat juga yang cocok sesuai kebutuhan dan masih masuk budget. Kami namai dia, Pingo.
Lucunya, suami belum tau gimana gunainnya. Coba belajar otodidak sama abangnya, gagal total. Lalu, dia les beberapa hari.
Idul adha itu jadi momen kali pertama si Pingo ini kami kendarai sekeluarga. Agak degdegan karena suami belum begitu mahir. Tapi, sebagai istri yang jiwa optimis dan kesantuyannya di atas rata-rata, aku tetap tenang dan percaya.
Sekarang, udah 8 bulan si Pingo ini di rumah kami. Kemaren baru ditabrak angkot. Dan mayan keluar banyak duit juga buat perbaikan. Haha. Resiko punya barang ya gitu. Alhamdulillah, tetap disyukuri.
Semoga betah ya, Pingo. Semoga Allah berkahi.
Ida M
—ibu yang terus belajar bersyukur
#tautannarablog11 #day9
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)