Disclaimer: ini ada tulisan marah-marah emak anak satu, yang ditulis di sela nidurkan bayi, nggak lagi difilter dan nggak sempat diramu agar enak dibaca.
25 November 2025
Ingat tanggal ini baik-baik. Hujan deras mulai mengguyur hampir di seluruh bagian wilayah Aceh-Sumatra Utara-Sumatra Barat. Sebabnya, kata BMKG badai yang terprediksi sepekan sebelumnya. Sayangnya, tidak ada satupun peringatan bahaya dari pemerintah setempat. Anggap remeh.
Warga awalnya anggap ini hanya puncak musim hujan. Tapi, selama berhari-hari hujan tak kunjung reda. Di perkotaan, air meluap. Di perkampungan, yang dekat hutan pun, air meluap dan membawa batang-batang pohon yang sudah tersegel dan terpotong rapi. Bukan illegal logging. Ini deforestasi.
Kalau air saja yang datang karena badai dan curah hujan tinggi, kita mungkin bisa maafkan. Tapi, batang pohon yang rapi ini ini sudahlah jelas menjadi bukti ada yang tidak beres di hutan kita. Mirisnya, ternyata penggundulan hutan ini izinnya resmi dari Kementrian Kehutanan. Mentri kehutanan macam apa yang membolehkan hutan digunduli?
Beberapa hari berlalu. Jaringan komunikasi mulai putus di berbagai wilayah. Korban-korban makin banyak. Ribuan rumah dan infrastruktur yang hancur makin terdata. Tiga provinsi meregang nyawa. Tapi apa kata Presiden negara ini?
"Saya rasa, keadaan sudah membaik."
Komunikasi publik yang tidak beretika. Nirempati. Kedunguan yang jelas sekali dipertontonkan oleh seorang kepala negara.
Tidak berhenti sampai di situ. Bahkan, dengan lantangnya, dia berkata, "Kita tidak butuh bantuan dari negara lain".
Publik lantas bertanya, ada apa ini? Ada kah sesuatu yang tidak beres? Mengapa seorang kepala negara tidak langsung terjun ke lokasi bencana secepat mungkin? Mengapa status bencana nasional tidak ditetapkan? Apa sebenarnya yang sedang ditutupi?
Sepanjang jadi WNI selama 30 tahun, aku tidak pernah semarah ini kepada pemerintah, terutama kepada Presiden Indonesia. Bukan hanya soal penanggulangan bencana yang lambat. Tapi juga soal jiwa pengecutnya yang sengaja menutupi fakta lapangan bahwa perusahaan yang secara legal melakukan deforestasi itu adalah milik keluarganya.
Duka Indonesia tahun ini sesungguhnya bukan bencana dahsyat yang menerpa. Kita sudah biasa hidup susah sejak zaman kolonial. Dijajah, bertahan di hutan dengan sedikit makanan, dirampas habis harta. Nenek moyang kita sekuat itu.
Duka kita sesungguhnya sebagai WNI adalah punya kepala negara yang bahkan tidak peduli sama sekali dengan warga di negaranya. Dibiarkannya kita mati kelaparan. Kita hanya 0,001% angka yang akan dilaporkan, lalu dilupakan persis seperti anak-anak yang keracunan MBG.
Kuat-kuatlah, Kawan-Kawanku. Masih ada akhirat, tempat kita saling meminta pertanggungjawaban. Rawat ingatan kalian baik-baik akan nama kepala negara kita hari ini.
Ida M
–ibu yang sedang tantrum
#tautannarablog11 #day1
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)