Langsung ke konten utama

Unggulan

Melepaskan atau Menyambut

Beberapa hari lalu, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah postingan berasal dari seorang ibu, mertuanya Sherina Munaf. Caption yang beliau tuliskan menambah insight saya tentang respon terhadap satu fase kehidupan: pernikahan.


Selama ini, saya berpikir bahwa pernikahan seseorang --entah anak, teman, kakak, atau siapapun itu-- menjadikan dia dan pasangannya seolah pindah ke planet selain bumi. Dua manusia ini menjadi jauh dan cukup sulit untuk dijangkau. Seolah ada tembok baru yang terbangun antara keluarga baru ini dengan orang-orang lama yang sebelumnya dekat dengan mereka.

Ini menyebabkan, ada rasa khawatir dari saya ketika teman dekat saya menikah walaupun dengan teman sepermainan kami juga. Ini juga yang mungkin jadi sebab kenapa adik-adik mentoring saya pernah berceletuk, "Kak, nanti kalau kakak menikah. Kami nggak disayang lagi dong? Ngga bisa curhat-curhat lagi dong? Ngga bisa peluk-peluk lagi dong?". Atau bisa jadi menjadi sebab kekhawatiran bagi sebagian orang tua kalau anaknya akan 'diculik' oleh orang asing yang sering disebut menantu.

Tentunya, cara berpikir ini tidak sepenuhnya benar. Karena postingan Ibu Ade di atas telah mematahkannya.

Perspektif apa yang harus kita pasang ketika ada seseorang baru yang ingin masuk ke kehidupan orang yang kita sayang?

Bukan melepaskan, tapi menyambut.
Bukan takut kehilangan, tapi antusias menyambung silaturahim. 

Tidak akan ada yang hilang. Tidak akan ada yang semakin jauh tak terjangkau. Tidak akan ada yang tersakiti.

Mereka yang baru menikah, mungkin akan semakin sibuk. Wajar. Perlu adaptasi pada variabel-variabel baru yang masuk dalam kehidupan. Mungkin akan semakin sulit dihubungi. Tak apa. Dunia maya dan telekomunikasi tak selamanya harus jadi prioritas utama. Doakan saja fase jetlag-nya segera selesai. Agar kita bisa kembali menyambut mereka di bumi selepas bulan madu di planet lain.

Maka, sambutlah mereka dengan suka cita.




--

Ida Mayasari

Komentar

Postingan Populer