Ada sebuah nasihat yang saya dapat dari seorang ustad dalam sebuah ceramah.
Ini adalah cerita tentang pengalaman ustad itu sendiri kala sedang berada di toilet Masjidil Haram bersama temannya.
Kala mengantri, mereka memperhatikan petugas kebersihan bekerja. Dia menyiram air, lalu menarik air tsb (dengan alat bantu) agar jatuh ke lubang yang ada di ujung lantai kamar mandi.
Anehnya, di tiap sisi kanan-kiri lantai kamar mandi, ada lubang juga yang notabene lebih mudah menarik air ke lubang itu dari pada harus ke ujung.
Lalu teman ustad bertanya, "Ustad, kenapa ya, dia lebih pilih narik air ke lubang di ujung dari pada yang di samping itu?"
Sang Ustad tersenyum dan menjawab, "Akh (Saudara), itu wewenang dia sebagai yang punya tanggung jawab di tempat ini. Dia yang lebih paham. Kita ga tau, bisa jadi di lubang yang kanan-kiri itu, ada sumbatan."
Sebuah jawaban cerdas, menurut saya.
Kita nih, netizen, kebiasan komentar akan hal-hal yang jadi wewenang orang lain.
Ada ibu gendong bayinya dengan M-shape, dinyinyirin. Ada artis yang pindah agama, dihujat. Ada ketua organisasi yang buat kebijakan tertentu, malah dianggap kurang berkapasitas.
Padahal, tidak semua hal itu adalah urusan kita.
Apalagi kalau soal pemimpin. Kita tuh, ibarat ada di kaki gunung yang cuma bisa lihat puncak. Tapi pemimpin itu ibarat ada di puncak gunung. Dia bisa lihat banyak detail yang ga bisa kita lihat.
Selagi yang dilakukan tak melanggar syariat dan tak merugikan orang lain, baiknya kita lebih baik menahan diri untuk tak berkomentar julid.
Kalau besok mau julid atas hal-hal yang kurang faedah, tanam aja pesan ini ke otak kita, "Itu wewenang dia, bukan wewenang saya."
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)