Di matanya, ada binar-binar cinta yang memancar dari dalam jiwa. Suatu hari, ia kedapatan sedang mengucek rambut adik-adik binaannya yang lelaki. Pemandangan yang jarang sekali kutemui dalam lingkaran kami. Pemandangan yang meski sekelebat saja, namun bisa merasuk ke dalam hati bahwa ada rasa sayang yang tulus di sana.
Seketika aku terlempar jauh ke rumah. Ayahku sering membelai rambutku, menggandeng, lalu merangkulkan lengannya ke bahuku. Dimana aku merasa dilindungi sekaligus disayangi dalam waktu yang sama.
Ternyata, itu rahasianya keterikatan hati yang dalam antarmereka. Ternyata, itu rahasianya adik-adik bisa manut sama kakak pembinanya. Ternyata, rasa sayang itu harus diungkapkan, seminimalnya dengan senyum tulus yang memancar dari dalam jiwa. Dan kucekan rambut? Itu berlaku bagi lelaki saja, kukira.
Lalu, kuputuskan bahwa aku harus menemukan hal apa yang bisa merekatkanku dengan adik-adik binaanku. Dan aku menemukannya: sebuah pelukan.
Aku lalu mencobanya. Memberikan penjelasan pada adik-adikku bahwa ada lima bahasa cinta: physically touch, gift, affirmative sentence, service, dan quality time. Terus kuulang dan kuyakinkan, bahwa semua itu penting untuk merekatkan sebuah lingkaran.
Respon mereka, tersipu malu. Tak menyangka ada kakak yang sefrontal itu memaksa untuk physically touch sebagai praktik teori bahasa cinta. Tapi kemudian, mereka berebutan. Ingin memelukku selama mungkin. Tak malu, walau dilihat banyak orang.
Tak apa, Adikku. Selagi aku masih punya cinta untuk dibagikan, kalian ambil saja semau kalian. Sebanyak-banyaknya. Sepuas-puasnya.

Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)