Ibuku terlalu kuat untuk memendam semua penderitaannya sendirian. Meskipun aku tak tahu betul apakah ia merasakan derita atau tidak.
Beliau tak pernah cerita apapun tentang duka batinnya yang terdalam. Baginya, mengadu pada Rabb-nya sudah cukup menyembuhkan semua luka.
Ibuku sering mengomeliku. Kalau aku tidak mengerjakan pekerjaan rumah, atau ketika aku sibuk seharian di depan gawai, sedang ia sibuk sendirian di dapur.
Tapi, semarah-marahnya ia pada kami, anak-anaknya dan ayahku, esok paginya ibuku selalu membuatkan sarapan paling enak sedunia. Tidak membiarkan kami terlantar kelaparan.
Semarah-marahnya ia padaku, ia selalu memulai percakapan duluan pada hari yang sama. Seolah sebelumnya tidak ada apa-apa.
Kadang aku penasaran, terbuat dari apa hati ibuku?
Enam belas tahun aku tinggal bersamanya setiap hari. Seolah baru kemarin aku masuk ke taman kanak-kanak dan memaksa ada PR setiap hari, yang membuat ibuku bingung antara kesal atau bangga pada putri bungsunya.
23 tahun ia ada dalam hidupku. Oh, bukan. 23 tahun aku hadir dalam hidupnya, apakah ia sudah bahagia karenaku?
Kepada ibuku, yang aku terlalu malu menyampaikan kata-kata ini padanya.
Apa ibu sudah bahagia?
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)