Wahai, Paduka
Kurasa ada yang menyelinap
Mengelabui prajurit saat gelap
Masuk ke istana
Amboi, hendak apa kiranya
Semalam ia ikut tonton layar tancap
Dan pagi tadi di arena balap
Hei, ia menunggangi kuda!
Hingga jingga mega hari ini
Ia sibuk di kebun mawar
Anehnya, bersama para menteri
Paduka, kenapa tak berkoar
Apa kiranya paduka telah ditunggangi?
Gawat! Rakyat harus menyasar!
#tantangan2
#kelaspuisi
#puisicinta3
#7puisicintafebruari
@kelaspuisi
* * *
Puisi ini diikutsertakan dalam tantangan #sonetacinta dari @kelaspuisi. Dan Alhamdulillah terpilih jadi salah satu dari 3 puisi yang paling unik.
Saya juga upload ke instagram dan facebook. Beberapa orang tidak memahami maksud saya menulis judul PAKUDA, yang notabenenya tidak ada dalam KBBI dan terlihat salah ketik (harusnya Paduka).
Tapi, seorang penulis tidak akan semudah itu salah ketik, apalagi pada judul. Judulnya memang sengaja saya buat PAKUDA. Saya ga akan jelasin kenapa harus itu. Kamu telaah dan tebak sendiri saja, ya. Haha.
Sapardi Joko Damono pernah berkata ketika ditanya tentang maksud puisi Hujan Bulan Juni-nya, "Kalau saya jelaskan namanya bukan puisi, jadinya esai".
Haha.
Maka, nikmatilah bercengkerama dengan pikir dan batinmu sendiri.
Saran saya cuma satu.
Hal-hal yang belum bisa masuk ke logikamu, belum tentu itu tidak baik. Kamu hanya butuh waktu lebih untuk memahaminya.
Aduh, kayak quote dari Mas Gagah itu loh.
“Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, cobalah untuk bisa menghargainya.”
Salam,
Penulis-sok-misterius :)
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)