Jadi, kemarin ada seorang abang nge-WA, minta tolong cariin kado buat istrinya, kakak non biologisku sejak kecil. Kadonya baju muslimah syar'i.
Karena jadwal hari itu cukup padat, akhirnya aku tancap gas juga di waktu kosong yang sangat mepet ke Sentral dekat Medan Mall. Alhamdulillah ada temen yang tau dimana toko yang jual dengan harga grosir.
Ga cuma beli, aku juga diminta buat bungkusin itu pake kertas kado. Yowes, karena
aku baik yang ultah juga udah kayak kakak kandung sendiri, ya aku bungkusin. Nyari kotak susu, ga nemu. Akhirnya, pake kotak bekas makanan ringan yang biasa ada di parcel bulan puasa. Kotaknya uda rapi tersampul kertas manila karena sebelumnya itu kotak uda aku pake buat tempat flanel, benang, dan teman-temannya.
Rupanya, bacaan "flanel" yang dulu sengaja ditempel atas kotak itu, jadi agak ganggu. Akhirnya, aku tutup pake kertas origami sekalian jadiin itu kartu ucapan. Isinya simpel, karena waktu itu ga sempet mikir panjang.
Kepada : Istriku Tersayang.
Selamat ulang tahun, Istriku tersayang.
Semoga usianya berkah dan bermanfaat.
Terima kasih telah mau menjadi ibu untuk anak-anakku.
Salam sayang,
Suamimu.
Si suami ga tau apa-apa soal kartu ucapan itu. Ini murni inisiatif gilaku. Sampai akhirnya, dibukalah kado itu oleh istrinya yang baru lahiran beberapa pekan lalu.
Besoknya aku nanya gimana respon istrinya waktu buka kado dan baca kartu ucapannya.
"Sedih dia. Thank you, ya."
Sedih di sini, mungkin maksudnya terharu. Udah hapal betul gimana ekspresi si kakak.
Terus aku mikir. Belakangan ini kok aku sering nulis yang feeling banget yang ngaduk-ngaduk perasaan sama banjirin air mata? Ada apa dengan otak Thinking ku?
Tapi aku enjoy. Aku bahagia. Dengan cara buat orang lain bahagia atau sekadar terharu hanya karena sebuah ucapan "Kakak sayang kalian" atau "Terima kasih telah mau jadi ibu untuk anak-anakku."
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)