Makin kemari, kayaknya makin banyak lelaki modus berkeliaran. Pada usia yang menurut UU sudah mencukupi untuk menikah ini, memang jadi momen rawan godaan bagi para akhwat.
Lebih parahnya lagi, modus tidak hanya merebak di kalangan lelaki yang biasa menempuh jalur pacaran untuk mendapatkan pendamping hidup. Tapi juga menjalar ke sebagian ikhwan (mantan) aktivis pergerakan kampus yang katanya rajin mengaji setiap pekan.
Entah apakah para ikhwan ini memang sengaja ingin meninggalkan kesan mendalam pada satu orang atau bisa jadi "jejak" ini ditinggalkan pada beberapa perempuan.
Aneh, sungguh aneh.
Jika telah mantap untuk menikah, kenapa tak langsung bertandang?
Oh, paham. Jadi mungkin si ikhwan mau memilih-milih calon dulu dengan cara berinteraksi basa-basi dengan beberapa akhwat dalam waktu yang bersamaan. Sayangnya, interaksi dilakukan di media mana saja yang memberikan peluang. Komentar Instagram, Facebook, Line. Yang notabenenya, ini bisa dilihat semua orang. Belum lagi chat WA/Line, DM instagram, SMS, dan lain-lain, yang tak semua orang bisa tahu.
Aneh, sungguh aneh.
Seolah akhwat adalah barang di swalayan, yang bisa dipilih, dimasukkan keranjang, lalu dikembalikan lagi jika ada barang lain yang lebih menarik hati.
Ikhwan, berhentilah melancarkan modus pada akhwat manapun yang kau incar.
Akhwat memang dominan memakai perasaan. Tapi modus akan tetap terdeteksi dengan jelas.
Jika memang ingin mengenal lebih dalam, ta'aruf adalah jalan yang lebih ahsan. Cara itu adalah cara terbaik untuk menghargai seorang akhwat.

Akhwat bukan barang di swalayan. Dia ibarat mutiara dalam sebuah kerang di dasar lautan. Hanya penyelam terbaik dengan cara paling heroik yang bisa menemukan dan mendapatkannya.
Akhwat, mari pasang perisai kita dan maksimalkan kekuatan.
Wallahu a'lam.
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)