Pada suatu masa, kita pernah mengorbankan perasaan sendiri. Saat tiba-tiba kata-kata menjadi beku. Sebab mereka keluar melalui lidah langsung menembus hati yang mendengarnya.
Pada detik itu, ingin sekali aku menangis saja. Bukan, bukan karena kata menusuk batinku. Namun, karena aku merasa begitu kasihan melihat baju ukhuwah kita yang compang-camping. Bahkan pada seseorang yang mungkin berkat do'a dan bimbingannya menjadikan kau di puncak jaya sekarang. Begitu tega kau membuka tabirnya tanpa ba-bi-bu, tanpa memberinya kesempatan klarifikasi. Sungguh tak rela aku tumpahkan air mataku di hadapmu.
Aku begitu sedih pada keadaan ini. Ternyata lama tarbiyah tak menjamin kita bisa menjadi bijak bertindak. Tak cukup juga menumbuhkan prasangka baik dalam jiwa.
Siapakah yang mengobarkan stigma jika bukan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan pihak yang tercoreng namanya. Kau bahkan gagal meredam ketidakpercayaan saudara yang satu akan saudara yang lain. Padahal kau harusnya jadi penengah. Kau, yang katanya berjaya di banyak kompetisi, bagiku adalah orang paling gagal yang pernah kutemui.
Darimu, hari itu aku menukil pelajaran besar. Tentu, aku sedang bercermin. Di hadapmu yang merasa begitu besi padahal sebenarnya kapas. Di hadapmu yang merasa begitu awan padahal sebenarnya legam.
Jika kau terlanjur tak bijak, maka artinya aku lah yang harus menjadi bijak.
Cukuplah sampai padaku saja berita tentang stigma buruk yang tengah mereka kobarkan pada saudara-saudara kita di sana. Cukuplah aku saja yang menanggung rahasia terbesar perpecahan ini. Bahkan jika aku harus memegang bara api untuk mempertahankannya, kuikhlaskan tanganku melepuh asal lelehannya bisa merekatkan kembali retak-retak gelas ukhuwah kita.
Terima kasih telah mengajarkan sebuah kebijaksanaan lewat ketidakbijaksanaan dirimu.
Luka itu, masih biru. Biarkan waktu yang membuatku lupa akan warna birunya. Namun tidak, akan legammu.
Yang terluka lebam,
Ida Mayasari
Komentar
Posting Komentar
jangan sungkan untuk berkomentar ya :)