Hai. Apa kabar kau disana? Baikkah? Atau tetap seperti dulu yang pesakit. Aku harap tidak lagi. Di negeri orang harus kuat. Harus tahan banting. Jaga kesehatanmu. Ibumu akan sedih jika tahu kau tak henti menarik cairan hidungmu di ujung telepon. Begitupun aku. Begitu sedih jika tahu kau semakin ringkih. Andai saja aku boleh ikut ke tempatmu. Andai saja aku juga punya cita-cita yang sama seperti kau. Haha. Tapi aku tak pernah menyesal dengan apa yang kudapatkan sekarang, dimana aku berada sekarang, bersama siapa, tentu sudah ada yang merencanakan.
Ibuku sama seperti ibumu yang khawatir bila anaknya jauh. Kami jarang bertelepon ria. Tapi saling merindukan. Sama seperti kita. Kapan terakhir kali aku katakan bahwa aku rindu kau? Tak pernah bukan? Terlalu malu untuk katakan hal yang tak harus ku katakan. Dan, kapan terakhir kau katakan ingin jumpa aku? Tak pernah. Kita tak pernah mau mengakui, namun dapat merasakan desahan rindu masing-masing. Kita saling merindukan dalam diam.
Indahnya kita. Tanpa harus saling memberi tahu, kita sudah tahu sendiri. Kita saling rindu. Saling ingin bertemu. Saling ingin menjaga walau jauh.
Ini untukmu, Jagoanku yang sombong. Rendahkan hatimu, Sayang, maka kau akan ditinggikan. Sampaikan salamku untuk wanitamu.
Ida Mayasari
wah asik sekali ini, merindukan dalam diam :))
BalasHapustapi, kalau kalian terus diam... kapan semua akan menjadi jelas?
mungkin tidak akan menjadi jelas :))
Hapusyang terakhir itu, kenapa kok langsung menohok?
BalasHapushaha
Hapuskarena sudah saling ikhlas untuk melepaskan :)
templatenya keren. Postingan yang ini juga sangat menyentuh :) (y)
BalasHapuskunjungan perdana, mampir balik ya :)
terima kasih sudah berkunjung, yoga :)
Hapustunggu kunjungan saya ya :)